Kisahnya, pada suatu saat, Nabi Musa as. memerangi kaum kafir hingga melewati negeri Kan’an, negeri Bal’am. Maka, penduduk Kan’an menghadap Bal’am dan memintanya untuk berdoa agar Nabi Musa as. tidak sampai memasuki negerinya. Dengan alasan, Musa adalah seorang Nabi yang keras yang memungkinkan mereka akan terusir dari negerinya atau akan tertumpas semuanya.
Jawab Bal’am, “Kamu semua ngacau, Musa adalah Nabiyullah. Beliau datang disertai para malaikat dan orang-orang beriman, dengan tujuan menumpas kaum zhalim, kafir dan jahat. Jika aku mendoakannya, niscaya aku merugi dunia dan akhirat.”
Memang, pada mulanya permintaan mereka ditolak mentah-mentah. Namun, mereka datang untuk kedua kalinya dengan merengek-rengek agar Bal’am meluluskan permintaan mereka.
Maka Jawab Bal’am, “Sudah aku katakan, tidak bisa! Tetapi kalian terus mendesakku. Maka tunggulah, aku akan bermunajat kepada Allah.”
Kemudian, pada malamnya ia bermimpi bahwa Allah melarangnya melakukan perbuatan itu.
Dua kali sudah mereka ditolak. Dan pada permintaan ketiga, mereka datang sambil membawa hadiah yang sangat banyak. Setelah menerima hadiah itu, Bal’am berkata, “Aku akan meminta lagi petunjuk Allah.” Akan tetapi, ternyata pada malam harinya ia tidak mendapatkan petunjuk apa pun.
Berkatalah kaum itu, “Nah, itu suatu pertanda bahwa Allah tidak melarang lagi. Sebab, jika Allah melarang, pasti ada tanda tanda seperti pada malam pertama.”
Kaum itu terus menerus membujuk dan merayunya. Hingga Bal’am kehabisan akal. Kemudian, dengan menunggang unta, Bal’am pergi ke suatu bangunan guna melihat balatentara Nabi Musa, dan terus berdoa agar Nabi Musa tidak memasuki negeri Kan’an. Namun, baru beberapa langkah, unta tunggangan Bal’am terkulai dan tidak bisa bangkit. Maka, Bal’am turun dari punggung unta dan memukulinya. Dengan terpaksa, unta tersebut berusaha bangkit dan berjalan. Akan tetapi, baru beberapa langkah, unta itu lagi-lagi terkulai dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Dan untuk kedua kalinya, Bal’am turun sambil memukulinya.
Dengan kehendak Allah, unta itu secara mendadak dapat berbicara kepada majikannya, “Wahai Bal’am, celakalah kamu! Hendak kemana engkau, apakah engkau tidak melihat bahwa para malaikat menghalangiku hingga aku tidak bisa berjalan.”
Beberapa saat kemudian, unta itu bisa bangun dan meneruskan perjalanan. Sesampainya di puncak gunung Hisan, Bal’am dan kaumnya pun bersiap-siap untuk berdoa.
Maka Bal’am memulai doanya. Tetapi aneh sekali, doa yang ditujukan untuk Nabi Musa dan kaumnya selalu berbalik untuk kaumnya. Setiap doa untuk keburukan, kelemahan, dan kebinasaan Nabi Musa dan pengikutnya selalu berbalik bagi kaumnya. Dan doa untuk kebaikan kaum Bal’am selalu terpeleset justru untuk kebaikan Nabi Musa dan kaumnya.
Ketika kaum Bal’am memprotes ucapannya, Bal’am menjawab, “ini di luar kekuasaanku. Aku bermaksud mendoakan kalian, tetapi sungguh aneh, aku tidak kuasa mengendalikan lidahku. Dengan demikian, nyatalah sudah aku merugi dunia akhirat. Sekarang, kita harus menggunakan cara yang paling baik, yakni mengumpulkan wanita-wanita cantik yang dihiasi dengan perhiasan indah. Selanjutnya, perintahkan mereka, membawa barang dagangan kepada rombongan Nabi Musa as., dengan dibekali pesan jika ada di antara pengikut Nabi Musa mengajak berzina, hendaknya mereka (para wanita) tidak menolak ajakan itu. Dengan demikian, jika hal itu terjadi, berarti berhasil keinginan kalian.”
Kemudian, kaum Bal’am menjalankan taktik yang dikemukakan Bal’am itu dengan penuh kesungguhan. Di antara pengikut Nabi Musa ada yang bernama Zamry bin Syalam. Ketika ia melihat salah seorang wanita kaum Kan’an (pengikut Bal’am) bernama Kasty binti Swur menawarkan dagangannya, Zamry tidak kuasa menahan birahinya. Maka ia memegang tangan Kasty, yang kemudian ia tuntun ke suatu tempat. Ternyata Kasty menuruti segala kemauan Zamry, hingga tak pelak lagi mereka melakukan hubungan intim ... , ya, mereka telah berzina!
Maka, saat itu juga Allah menimpakan penyakit tha‘un kepada laskar itu, hingga jumlah yang gugur saat itu mencapai puluhan ribu orang.
Semua itu berpangkal dari Bal’am. Sehingga Allah mencabut segala ilmu dan keistimewaan yang ada pada dirinya, yang mengakibatkan ia tersesat dan binasa. Padahal dahulu, dalanm sekali mengajar tidak kurang dan dua belas ribu murid mengikutinya. Tetapi, untuk pertama kalinya ia mengatakan dalam karangannya bahwa alam ini tidak ada yang menciptakan (menjadikan), ia kehilangan massa.
Kita bermohon kepada Allah, semoga Allah menjauhkan kita dari murka dan siksa-Nya yang amat pedih dan menghinakan.
Dan penting pula kita perhatikan, betapa kejinya godaan dunia, terlebih lagi terhadap para ulama.
Mudah-mudahan Allah menjadikan amal kita sebagai suatu kebaikan, dan menghapuskan segala kesalahan kita. Karena, yang demikian itu bukan merupakan kesulitan bagi Allah ‘Azza wa jalla.
Sign up here with your email
ConversionConversion EmoticonEmoticon