KENAPA ADA RIYA'



Imam Hasan Bashri mengisahkan, bahwasanya ada seseorang berkata dalam hatinya, “Demi Allah, aku akan beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, sehingga aku menjadi terkenal, dan ibadahku dilihat orang lain.”

Setiap ke masjid, ia datang paling awal, dan paling akhir keluarnya. Semua itu dimaksudkan agar orang lain melihatnya. Sehingga, kesannya seolah-olah ia orang yang rajin shalat, puasa, senantiasa hadir dalam majlis ta‘lim, dan sebagainya.

Perbuatan seperti itu berlangsung selama tujuh bulan. Tetapi, apa hasilnya, setiap ia melewati orang banyak, bukan pujian yang didapat, tetapi umpatan dan cercaan. “Mudah-mudahan Allah mencelakakannya, karena ia riya. Ada juga orang mengatakan, “Itu dia, ahli riya sedang lewat!”

Maka, akhirnya ia insyaf dan sadar. Ia tetap pergi ke masjid dan menghadiri majlis ta’lim, tetapi niatnya telah dirubah, yakni lillahi ta’ala

Setelah demikian, berkatalah orang-orang, “Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat kepadanya, lantaran kebaikannya.”

Kemudian Imam Hasan Bashri membaca ayat:

إِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah[1] akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS. Maryan: 96)

Selanjutnya, Imam Hasan Bashri mengatakan, “Allah akan mencintai dan mengasihinya, serta akan dicintai kaum Mu’minin.”
Sebuah sya’ir mengatakan:

Hai orang-orang yang ingin mendapatkan pujian orang lain,
 yang beramal untuk meminta pahala kepada sesama, 
sesungguhnya pengharapan itu mustahil, 
Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang-orang riya, 
hanya kelelahan dan sia-sialah amal kalian.
Barangsiapa bersungguh-sungguh mengharap keridhaan Allah, 
pastilah amalannya pun akan dijalankan dengan ikhlas, 
dengan rasa takut kepada Allah. 
Masalah kekal di neraka atau di surga adalah tergantung kehendak Allah.


Sesungguhnya, jika orang mengetahui bahwa amalan seseorang dikarenakan dan diperuntukkan bagi-Nya, bukan karena Allah, tentu orang itu akan membencinya. Saking bencinya ia akan menghina dan meremehkan orang yang berbuat itu.

Apabila beramal dan terdapat sifat riya, hendaknya riya itu ditujukan kepada Allah. Sehingga Allah meridhai, mencintai dan mencukupi segala kebutuhannya.

Untuk menghindarkan diri agar tidak mencari keridhaan makhluk, jalan keluarnya sebagai berikut:

Mengkhususkan iradat, yakni mengerjakan sesuatu karena Allah semata. Sebab hati dan ubun-ubun manusia ada pada kekuasaan Allah. Dia-lah yang menguasai hati manusia.

Sehingga, untuk memperoleh sesuatu tidak bisa hanya mengandalkan usaha sendiri dan menyandarkan pada tujuan semata. Maka jika seseorang bermaksud mendapatkan keridhaan orang lain, bukan keridhaan Allah, maka Allah akan membelokkan hatinya, sehingga orang lain membenci dan menjauhinya.

Bukan hanya orang lain yang membencimu, tetapi Allah pun akan membencimu, betapa ia merugi.

Jika riya, riyalah kepada Allah, sehingga Dia akan memberikan pahala. Sesungguhnya, manusia tidak mempunyai daya dan kekuasaan. Mengapa harus riya kepada sesama manusia? Sesat sekali orang-orang yang demikian!






[1] Dalam surat Maryam ini nama Allah "AR-RAHMAAN" banyak disebut, untuk memberi pengertian bahwa,Allah memberi ampun tanpa perantara.

Previous
Next Post »